Tindakanyang menyedihkan hati Tuhan : 2.durhaka pada ortu. 3.mencuri. 4.mengganggu orang lain. 5.membully orang yang lebih rendah. 6.membentak orang yang lebih tua. 7.berbohong . 8.menipu. 9.menculik. 10.menyakiti orang lain. Tindakan yang Menyenangkan Hati Tuhan : 2.berbakti pada ortu. 3.bersedekah. 4.membantu orang lain. 5.menolong orang lain. 6.beribadah dengan konsisten
Kemudiankata-kata permintaan maaf yang menyentuh hati yang selanjutnya yaitu, ada kata-kata permintaan maaf untuk orangtua. Kata-kata ini bisa menjadi ungkapan tulus kalian pada orangtua. Berikut beberapa kata-kata permintaan maaf yang menyentuh hati untuk orang tua tersebut: 26. "Maafkan aku bila aku telah banyak mengukir luka di hatimu ayah
Bahkandalam ayat tersebut diatas, orang-orang yang telah tumpul perasaannya akan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Itulah ciri orang yang tidak menganl Allah. Karena itulah Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketegasan mengingatkan agar kita sebagai seorang yang percaya dan mengenal Allah tidak lagi hidup seperti
Jadidukakan Roh Kudus bicara mengenai apa? Perbuatan eksternal dan perbuatan internal. Apa yang menjadi buah dari dosa yang kita lakukan atau sesuatu yang ada di dalam hati kita yang belum berbuahkan di dalam suatu perbuatan. Kalau itu adalah sesuatu yang berdosa Tuhan akan tetap melihat bahwa tindakan kita akan menyedihkan Roh Kudus Allah.
Sebaliknya ia pasti akan melakukan tindakan yang telah ditentukan oleh Allah. c) Free will / kehendak bebas berarti: semua yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya / keputusannya. dapat melakukan hal-hal yang menyedihkan hati
Sebagaiumat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat. "Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau." Mazmur 37: 1 - 2
.
Amsal 420-27 “……..Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan…….”. Menjadi garam dan terang dalam pemikiran kita diawali dengan menjaga hati. Pemikiran kita dapat tercemar dan menjadi najis di hadapan Allah karena memiliki segala pikiran jahat, seperti pembunuhan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat Mat. 1519; Mark. 721 yang bersumber dari hati yang tidak bersih. Hal-hal tersebut dapat terjadi bila seseorang tidak mau menjaga hatinya. Amsal 423 berkata “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Jadi, setiap kita perlu menjaga hati supaya tidak timbul kehidupan dan pikiran yang bertentangan dengan Firman-Nya. Lalai dalam menjaga hati akan mengakibatkan kita menyimpang dari jalan yang aman dan terjebak dalam jerat pembinasaan bnd. Ams. 724-27. Apa yang perlu kita ketahui tentang hati kita ?. Pertama, hati manusia adalah pusat pengendalian sikap dan darinyalah keluar instruksi yang biasanya kita jalani dengan patuh. Hati adalah saripati manusia, hati mencerminkan siapa kita sesungguhnya. Hati tidak berbohong, namun hati dapat memerintahkan kita untuk berbohong. Hati tidak bisa membunuh, tetapi hati sanggup menyuruh tangan untuk membunuh. Hati adalah perangkat lunak dalam komputer otak manusia yang dapat memprogramkan kita berbuat seturut kehendaknya. Betapa berkuasanya hati! Itu sebabnya firman Tuhan mengingatkan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan” Ams. 423. Kedua, hati adalah sumber “mata air”, bila sumbernya kotor, maka kotorlah airnya, namun bila sumbernya bersih, maka bersihlah airnya. Rupanya hati tidak dengan sendirinya bersih, kita harus menjaganya dengan seksama. Kita harus selalu melindunginya agar tidak tercemari. Bill Bright alm., pendiri Campus Crusade for Christ, menawarkan resep untuk menjaga kebersihan hati yaitu dengan cara “bernapas” secara rohani. Jika kita mendukakan Roh Kudus, akuilah dosa; dengan kata lain, “hembuskan napas.” Setelah itu, dengan iman, “tariklah napas”, terimalah kuasa Roh Kudus kembali. Hanya Roh Kuduslah yang dapat menolong kita menjaga hati agar tetap bersih. Karena pemikiran kita dipengaruhi dari hati kita, maka kita perlu menjaga hati supaya garam dan terang kita sebagai anak-anak Allah dapat kita tampilkan dalam pemikiran dan tindakan kita. Bahan bacaan Amsal 423; Matius 1518-19; Markus 721; Lukas 645. [Sumber Ayub Sahrul Efendi, Ilustrasi. Menjaga kehidupan bersih adalah dengan cara menjaga hati
Saya ingin memberikan jaminan bahwa ada suatu penyembuhan yang pasti bagi rasa sakit hati, kekecewaan, kesengsaraan, penderitaan, dan kepedihan. Pemazmur menyatakan, “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”1 Penyembuhan adalah mukjizat ilahi; luka-luka adalah keadaan yang dialami semua umat manusia. Shakespeare telah menyatakan, “Orang dapat menertawakan luka hanya jika dia sendiri tidak memiliki luka itu.”2 Tampaknya tidak seorang pun yang luput dari masalah, tantangan, dan kekecewaan dunia ini. Dalam masyarakat modern yang penuh kesibukan, beberapa metode penyembuhan yang orang tua kita rasakan tampaknya tidak lagi berhasil dalam kehidupan kita. Semakin sedikit orang yang mampu meredakan stres dengan melakukan kerja fisik dan mengolah tanah. Berbagai tuntutan yang meningkat, opini yang berbeda, iklan yang menggoda, suara berisik, keadaan sulit dari banyaknya hubungan pribadi dapat merampok jiwa kita dari kedamaian yang dibutuhkan oleh jiwa kita agar berdaya guna dan hidup. Ketergesaan kita untuk memenuhi tuntutan kerja rutin kita menghancurkan kedamaian batin kita. Tekanan-tekanan untuk bersaing dan hidup amatlah besar. Hasrat kita untuk memiliki harta benda pribadi tampak besar pula. Meningkatnya kekuatan-kekuatan yang menghancurkan individu serta keluarga mendatangkan kepedihan besar dan rasa sakit hati. Satu alasan penyebab penyakit rohani dalam masyarakat kita adalah bahwa begitu banyak orang yang tidak mengetahui atau peduli dengan apa yang secara moral benar dan salah. Begitu banyak hal dinilai berdasarkan pada kenyamanan serta pemerolehan uang atau barang. Baru-baru ini, segelintir orang dan tersebut, yang cukup berani untuk berdiri dan bersuara menentang perzinaan, ketidakjujuran, kekerasan, serta bentuk-bentuk kejahatan lainnya sering dicemooh. Banyak hal yang secara jelas adalah salah, baik yang sah maupun tidak sah. Mereka yang bersikukuh mengikuti hal-hal yang jahat dari dunia tidak dapat mengetahui “damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal.”3 Bagaimanapun juga, kita harus menemukan pengaruh penyembuhan yang mendatangkan keteduhan bagi jiwa. Di manakah balsam ini? Di manakah kelegaan pengganti yang sedemikian diperlukan untuk membantu kita mengatasi tekanan-tekanan dunia? Penghiburan pengganti dapat datang melalui komunikasi yang meningkat dengan Roh Allah. Ini dapat mendatangkan penyembuhan rohani. Penyembuhan rohani digambarkan dalam kisah Warren M. Johnson, yang merupakan seorang pionir operator kapal feri di Lee’s Ferry, Arizona. Sebagai pemuda, Warren Johnson pergi ke barat mencari emas pada musim semi tahun 1866. Dia sakit parah, dan rekan-rekannya meninggalkannya di bawah sebatang pohon di halaman rumah sebuah keluarga di Bountiful, Utah. Salah seorang anak perempuan keluarga itu menemukannya dan melaporkan bahwa ada orang mati di halaman itu. Meskipun dia benar-benar orang asing, keluarga yang baik ini membawanya masuk dan merawatnya sampai sembuh. Mereka mengajarkan Injil kepadanya dan dia dibaptiskan. Akhirnya dia berhenti sebagai operator kapal feri di Lee’s Ferry. Pada tahun 1891 keluarga Warren Johnson mengalami sebuah tragedi besar. Dalam waktu singkat, mereka kehilangan empat anak karena penyakit difteri. Keempat anak itu dikuburkan secara berdampingan. Dalam sepucuk surat kepada Presiden Wilford Woodruff, tertanggal 29 Juli 1891, Warren menceritakan kisah itu “Dengan hormat, Pada bulan Mei 1891 sebuah keluarga yang tinggal di Tuba City, datang ke sini dari Richfield Utah, dimana mereka telah menghabiskan musim dingin mereka untuk mengunjungi teman-teman. Di Panguitch mereka menguburkan seorang anak, dan tanpa membersihkan kereta atau diri mereka sendiri, bahkan tidak berhenti untuk mencuci pakaian si anak yang meninggal, mereka datang ke rumah kami dan menginap, berbaur dengan anak-anak kecil kami …. Kami tidak tahu apa-apa mengenai sifat penyakit itu, namun memiliki iman kepada Allah, saat kami berada di sini di ladang misi yang sangat keras, dan berusaha sekeras yang kami ketahui untuk mematuhi Kata-Kata Bijaksana, serta melaksanakan tugas-tugas keagamaan kami, seperti membayar persepuluhan, doa keluarga, dan sebagainya, agar anak-anak kami dapat diselamatkan. Namun, dalam waktu 4 1/2 hari [anak lelaki sulung] meninggal dalam pelukan saya. Dua orang lagi meninggal karena penyakit dan kami berpuasa serta berdoa sebanyak mungkin menurut kebijaksanaan kami, karena kami memiliki banyak tugas untuk dilaksanakan di sini. Kami berpuasa selama 24 jam dan saya pernah berpuasa selama 40 jam, namun dua anak perempuan saya juga meninggal. Sekitar satu minggu setelah kematian mereka anak perempuan saya yang berusia lima belas tahun, Melinda, terserang penyakit dan kami melakukan segalanya semampu kami namun dia mengikuti yang lainnya, dan tiga orang dari anak perempuan terkasih saya serta seorang anak lelaki telah meninggal, dan itu belum berakhir. Anak perempuan tertua saya yang berusia 19 tahu sekarang tak berdaya karena penyakit, dan kami berpuasa serta berdoa untuk kesembuhannya …. Apa yang telah kami perbuat sehingga Tuhan meninggalkan kami, dan apa yang dapat kami lakukan untuk memperoleh kasihnya lagi[?] Salam dalam Injil Warren M. Johnson”4 Dalam sepucuk surat berikutnya kepada temannya, Warren Foote, Brother Johnson bersaksi bahwa dia telah menemukan kedamaian rohani. “Tetapi saya dapat meyakinkan Anda, bahwa itu merupakan [pencobaan] tersulit dalam kehidupan saya, namun saya memulainya untuk keselamatan, dan saya memutuskan melalui bantuan dari Bapa Surgawi saya untuk berpegang teguh pada pegangan besi, tidak peduli apa pun pencobaan yang mungkin menimpa saya. Saya tidak mengabaikan kinerja dari tugas-tugas saya, dan berharap serta percaya bahwa saya akan memiliki iman dan doa dari saudara-saudara saya supaya saya boleh hidup agar dapat menerima berkat-berkat, melalui wewenang Anda, yang telah Anda anugerahkan di atas kepala saya.”5 Pasal-Pasal Kepercayaan ketujuh menyatakan bahwa, di antara karunia-karunia rohani lainnya, kita percaya pada karunia penyembuhan. Saya percaya karunia ini mencakup untuk menyembuhkan baik tubuh maupun roh. Roh berbicara kedamaian ke dalam jiwa. Keteduhan rohani ini datang dengan memohon karunia-karunia rohani, yang diminta dan dinyatakan dalam banyak cara. Karunia-karunia itu kaya, penuh, dan berlimpah di Gereja zaman sekarang. Karunia-karunia itu mengalir dari penggunaan kesaksian yang rendah hati dan benar. Karunia-karunia itu juga datang melalui menyembuhkan yang sakit setelah pengurapan dengan minyak yang dipersucikan. Kristus adalah Tabib Besar, yang bangkit dari kematian “dengan kesembuhan pada sayap-sayap-Nya,”6 sementara sang Penghibur adalah agen penyembuhan. Tuhan telah menyediakan banyak cara melalui mana kita menerima pengaruh yang menyembuhkan ini. Saya bersyukur bahwa Dia telah memulihkan pekerjaan bait suci ke bumi. Itu adalah bagian penting dari pekerjaan penyelamatan bagi mereka yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Bait suci-bait suci kita menyediakan sebuah tempat dimana kita dapat pergi untuk mengesampingkan banyak kecemasan dunia ini. Bait suci-bait suci kita adalah tempat kedamaian dan ketenangan. Di tempat yang kudus inilah Allah “menyembuhkan orang-orang yang patah hati, dan membalut luka-luka mereka.” Pembacaan dan pembelajaran tulisan suci dapat mendatangkan penghiburan besar. Presiden Marion G. Romney 1897–1988, Penasihat Pertama dalam Presidensi Utama, menyatakan “Saya merasa yakin bahwa jika, di rumah kita, orang tua mau membaca Kitab Mormon dengan sungguh-sungguh dan secara rutin, membaca sendiri maupun bersama anak-anak, roh dari kitab yang hebat itu akan datang untuk mengisi rumah kita dan semua orang yang tinggal di dalamnya. Roh kekhidmatan akan meningkat, rasa hormat bersama dan perhatian bagi satu sama lain akan tumbuh. Roh pertengkaran akan menyingkir. Orang tua akan menasihati anak-anak mereka dalam kasih dan kebijaksanaan yang lebih besar. Kesalehan akan meningkat. Iman, pengharapan dan kasih—kasih murni Kristus—akan tinggal di dalam rumah dan kehidupan kita, yang membawa dalam kehidupan mereka kedamaian, sukacita, serta kebahagiaan.”7 Semasa muda saya, manfaat kesehatan yang diperoleh dari Kata-Kata Bijaksana, termasuk tidak menggunakan tembakau, minuman beralkohol, teh, dan kopi, belum ditegaskan sebaik sekarang ini. Namun, manfaat rohaninya telah lama dirasakan. Kata-Kata Bijaksana menjanjikan bahwa mereka yang ingat untuk mematuhi perintah ini dan hidup menaati perintah-perintah ini “akan memperoleh kesehatan di seluruh tubuh mereka.”8 Sumsum telah lama menjadi lambang bagi semangat dan kehidupan yang sehat. Namun di zaman transplantasi sumsum tulang untuk menyelamatkan hidup, kalimat “sumsum untuk tulang mereka” memberi makna tambahan yang penting sebagai perjanjian rohani. Janji-janji bagi mereka yang menaati Kata-Kata Bijaksana tetap berlaku. Mereka yang menaati hukum ini “akan menemukan kebijaksanaan dan harta pengetahuan yang besar, bahkan harta yang tersembunyi; Dan mereka akan lari dan tidak menjadi letih, dan akan jalan dan tidak jatuh pingsan. Dan, Aku, Tuhan, memberi mereka sebuah janji, bahwa malaikat pemusnah akan melewati mereka, seperti terhadap anak-anak Israel, dan tidak membinasakan mereka.” Tuhan telah berjanji bahwa malaikat pemusnah akan melewati kita, seperti terhadap anak-anak Israel, dan tidak membinasakan Jika kita ingin diselamatkan, kita juga perlu dilindungi dari berbagai metode yang menghancurkan dalam pekerjaan di dunia zaman sekarang. Meskipun demikian, bagi banyak di antara kita, penyembuhan rohani terjadi bukan di tempat-tempat besar di dunia ini namun di pertemuan-pertemuan sakramen kita. Adalah menghibur untuk beribadat dengan mengambil sakramen dengan dan diajar dengan roh kerendahan hati oleh tetangga dan teman-teman dekat yang mengasihi Tuhan serta berusaha untuk menaati perintah-perintah-Nya. Uskup kami yang baik hati menugasi para penceramah untuk berbicara tentang Injil atau asas. Biasanya mereka berbicara dengan kuasa Roh kudus, dengan membuka hati mereka agar orang-orang yang hadir dapat mengetahui nilai kesaksian mereka. Kita sebagai hadirin memahami bahwa itu diajarkan oleh Roh Kebenaran dan menegaskan kesaksian yang menyertainya. Pertemuan sakramen kita hendaknya penuh pemujaan dan penyembuhan, dengan menjaga mereka yang menghadirinya tetap kuat secara rohani. Bagian dari proses penyembuhan terjadi ketika kita beribadat melalui musik dan lagu. Menyanyikan nyanyian rohani kita yang indah serta penuh pemujaan adalah makanan bagi jiwa kita. Kita menjadi sehati dan sepikiran ketika kita menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Di antara pengaruh-pengaruh lainnya, beribadat melalui lagu-lagu memiliki dampak secara rohani yang mempersatukan para peserta dalam sikap khidmat. Penyembuhan rohani juga datang dari memberikan dan mendengarkan kesaksian yang rendah hati. Sebuah kesaksian yang diberikan dengan jiwa yang patah, penuh syukur bagi pemeliharaan rohani, dan tunduk pada bimbingan ilahi merupakan obat yang mujarab untuk menolong meredakan kepedihan serta kecemasan di hati kita. Saya meragukan bahwa para anggota yang tulus di Gereja ini dapat memperoleh penyembuhan rohani sepenuhnya tanpa menjadi selaras dengan dasar Gereja ini, yang dinyatakan oleh Rasul Paulus yaitu “para rasul dan nabi.”10 Ini mungkin bukan hal yang populer untuk dilakukan berdasarkan sejarah masa lalu tentang penolakan dunia akan para nabi dan pesan-pesan mereka. Walaupun demikian mereka adalah penyambung lidah Allah di bumi dan mereka dipanggil untuk memimpin serta mengatur pekerjaan pada zaman dan masa ini. Adalah juga penting bagi kita untuk kedapatan terus-menerus mendukung uskup, presiden cabang, dan presiden wilayah serta presiden distrik kita. Informasi terkini tampaknya menegaskan bahwa penyembuhan rohani terakhir terjadi dengan cara melupakan diri sendiri. Sebuah kajian tentang catatan-catatan tertulis menyebutkan bahwa mereka yang dapat bertahan hidup paling baik di penjara dan di kamp-kamp penawanan adalah mereka yang prihatin terhadap sesama narapidana dan bersedia memberikan makanan serta barang-barang mereka untuk membantu orang lain. Dr. Viktor Frankl menyatakan “Kita yang hidup di kamp konsentrasi dapat mengingat para pria yang berjalan memasuki gubuk-gubuk menghibur orang lain, memberikan potongan roti terakhir mereka. Orang-orang ini mungkin sedikit jumlahnya, namun mereka memberikan bukti yang cukup bahwa segala sesuatu dapat diambil dari seseorang kecuali satu hal kebebasan terakhir manusia—untuk memilih sikap seseorang dalam serangkaian situasi yang diberikan, untuk memilih cara orang itu sendiri.”11 Juruselamat dunia mengatakan dengan sangat sederhana “Barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”12 Dari semua hal yang dapat kita lakukan untuk menemukan ketenangan, doalah yang barangkali paling menghibur. Kita diperintahkan untuk berdoa kepada Bapa, dalam nama Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, dan dengan kuasa Roh Kudus. Tindakan berdoa kepada Allah adalah memuaskan jiwa, meskipun Allah, dalam hikmat-Nya, mungkin tidak memberi apa yang kita minta. Presiden Harold B. Lee 1899–1973 mengajarkan kepada kita bahwa semua doa kita dijawab, namun kadang-kadang Tuhan berkata Nabi Joseph mengajarkan bahwa “cara terbaik untuk memperoleh kebenaran dan kebijaksanaan adalah … datang kepada Allah dalam doa.”14 Doalah yang paling bermanfaat dalam proses penyembuhan. Luka-luka yang disebabkan oleh orang lain disembuhkan dengan “keterampilan menyembuhkan.” Presiden Joseph F. Smith 1838–1918 menyatakan, “Namun penyembuhan sebuah luka adalah suatu keterampilan yang tidak diperoleh hanya melalui praktik, namun melalui kelembutan yang penuh kasih yang datang dari niat baik sepenuhnya dan minat yang simpatik demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.”15 Ada harapan bagi semua orang untuk disembuhkan melalui pertobatan dan kepatuhan. Nabi Yesaya menjelaskan bahwa “sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.”16 Nabi Joseph Smith menyatakan, “Tidak pernah ada saat ketika roh terlalu tua untuk mendekat kepada Allah. Semua orang berada dalam jangkauan mendapat belas kasihan.”17 Setelah kita sungguh-sungguh bertobat, rumusnya benar-benar sederhana. Sesungguhnya, Tuhan telah memberikan rumus itu kepada kita dalam kata-kata ini “Tidak maukah kamu sekarang kembali kepada-Ku, dan bertobat akan dosa-dosamu, dan ditobatkan agar Aku dapat menyembuhkan kamu?”18 Dalam melakukan hal itu, kita memiliki janji-Nya bahwa “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati, dan membalut luka-luka mereka.” Kita menemukan ketenangan di dalam Kristus melalui pengaruh sang Penghibur, dan Juruselamat mengulurkan undangan kepada kita “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”19 Rasul Petrus berbicara tentang “serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”20 Sewaktu kita melakukan hal ini, penyembuhan terjadi, sama seperti yang Tuhan janjikan melalui Nabi Yeremia ketika Dia berfirman “Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, dan akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka …. Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas.”21 Di kemuliaan selestial, kita diberitahu bahwa “Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita.”22 Maka iman dan pengharapan akan menggantikan rasa sakit hati, kekecewaan, kesengsaraan, penderitaan, dan kepedihan, dan Tuhan akan memberi kita kekuatan, sebagaimana yang Mormon katakan, bahwa kita “tidak akan menderita sesuatu macam kesengsaraan apa pun, kecuali kesengsaraan itu tertelan di dalam kesukaan tentang Kristus.”23 GAGASAN BAGI PENGAJAR KE RUMAH Setelah Anda dengan doa yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri, bagikanlah pesan ini dengan menggunakan metode yang mendorong peran serta dari mereka yang Anda ajar. Berikut adalah beberapa contohnya Perlihatkan apa yang Anda gunakan atau mintalah para anggota keluarga untuk memperlihatkan apa yang mereka gunakan untuk merawat luka-luka ringan, misalnya sabun, air, dan perban. Bahaslah proses penyembuhan jasmani. Menurut Presiden Faust, mengapa kita memerlukan penyembuhan rohani dewasa ini? lihat empat alinea pertama dalam artikel ini. Bahaslah beberapa “metode” Presiden Faust untuk memperoleh karunia penyembuhan. Berikan kesaksian mengenai kuasa penyembuhan dari Yesus Kristus. Bacalah dengan keras atau ceritakan dengan kata-kata Anda sendiri kisah mengenai Warren M. Johnson. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini mengenai luka dan penyembuhan rohani? Bacalah apa yang dikatakan oleh Presiden Faust mengenai pertemuan sakramen. Mintalah para anggota keluarga membagikan bagaimana menghadiri pertemuan sakramen telah membantu mereka merasakan Roh Kudus dan disembuhkan. Tekankan bahwa Presiden Faust menggunakan firman Allah dari tulisan suci kunci untuk membantu menyembuhkan jiwa yang terluka lihat Yakub 28. Kenali dan bagikanlah tulisan suci tersebut yang mengesankan bagi Anda.
Dalam kehidupan sehari hari ada beragam ujian dari Allah yang tentunya dimaksudkan untuk menguji keimanan kita dan menjadi jalan masuk jenis surga yang diediakan untuk orang beriman, terkadang kita menjadi tidak ikhlas dan menyalahkan keadaan yang dialami serta menjadi berkurang kadar keimanan yang kita miliki baik itu dalam hal beribadah kepada Allah maupun dalam berbuat baik kepada jarang juga hal tersebut terjadi karena ada seeorang yang berbuat zalim kepada kita sehingga kita menganggap hidup ini tidak adil dan menjadi sebab ciri wanita yang sulit masuk surga, dendam dan berbagai penyakit hati dengan mudah masuk ke dalam jiwa. Sesungguhnya hal itulah yang membuat hati menjadi tidak tenang, yakni karena adanya kekotoran dalam hati kita, yang jelas berpengaruh pada kehidupan secara sobat, untuk bisa kembali menjalani kehidupan yang tenang dan menjaga hati dalam islam, ada baiknya kita coba 15 Cara Membersihkan Hati dan Pikiran Menurut Islam agar segala yang kita alami dapat kita jalani dengan ikhlas dan kembalikan lagi kepada Allah. yuk sobat kita baca baik baik dan terapkan. 1. SabarAllah Ta’ala berfirman tentang mencari ketenangan dalam islam “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” Qs. Al-Baqarah 153. 2. Mengadu kepada Allah“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” QS. Al Fatihah 5. itulah cara membuat hati ikhlas dan tenang. 3. Berprasangka Baik“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” Qs Al-Insyirah 5-6. 4. Lebih Khusyu’ dalam Shalat“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al Quran yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” Zumar 23 5. Dzikir“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” Qs Ar-Ra’du 28. 6. Mengingat Semua akan Mendapat Balasan dari Allah” Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dirinya bakal menonton balasannya. serta Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dirinya bakal menonton balasannya pula.” QS. Al Zalzalah 7-8 7. Membaca Al Qur’an“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al-Quran yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” Q. S. Az Zumar 23. 8. Bersilaturahmi“Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturahim menjalinkan hubungan baik niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezeki, ditambah umurnya dan Allah SWT memasukkan ke dalam surga.”H. R. Ar-Rabii. 9. Selalu dalam Keadaan Suci / BerwudhuAbu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah bertanya kepada Bilal ketika shalat Fajar, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam Islam, karena aku sungguh telah mendengar gemerincing sandalmu di tengah-tengahku dalam surga.” Bilal berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling kuharapkan di sisiku, hanya aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.” HR Bukhari.Dari Umar radhiyallahu anhuia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, “Asyhadu an laa laaha illallaahu wa anna Muhammadan abduhu wa rasuuluhu.” Akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” HR Muslim 234Atau yang tercantum dalam hadis Abu Sa’id radhiyallahu anhu secara marfu’, “Barangsiapa yang berwudhu, lalu ia selesai dari wudhunya, kemudian mengucapkan, “Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika.” Allah akan menutup diatasnya bacaan itu dengan penutup4, kemudian ia diangkat hingga ke bawah Arsy, dan tidak dibuka hingga hari kiamat.” HR Nasa’i dalam Amal Yaul wa Lailah, hal. 147, Hakim 1/752 10. Sedekah“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” HR. Muslim “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan ganjarannya kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” Qs. Al Hadid 18“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” HR. Bukhari Muslim 11. Shalat Tahajud“Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu….” [Al-Israa’/17 79] “Dan sebutlah nama Rabb-mu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [Al-Insaan/76 25-26].“Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.” [Qaaf/50 40]. “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada be-berapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang di waktu fajar.” [Ath-Thuur/52 48-49] 12. Puasa“Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain meraka. Lalu dikatakan, Dimana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, pintunya ditutup dan tidak seorang pun masuk lagi.” HR. Bukhari, 1763. Muslim, 1947 13. Memaafkan Kesalahan Orang Lain“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” Asy-Syura 40 “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” Fushshilat 34-35Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia akhirnya menjadi temanmu yang dekat. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mengatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka dari tipu daya setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim 4/109 14. Menyayangi Sesama“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” At-Taghabun 14 “Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berilah ampunan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampunimu.” Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293 15. Banyak Mengingat Dosa dan Mengingat KematianTiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran185].Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’78]. Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. [Qaaf19].Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai oleh Allah. Kamu tidak mengembalikan nyawa itu kepada tempatnya jika kamu adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah83-87].Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga kita selalu mendapatkan ketenangan jiwa sebab itulah sesuatu yang paling indah di dunia akherat, yakni menjadi pribadi yang ikhlas dan dekat dengan Allah. Sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.
26 Maret 2017 “… Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta…” Matius 2514-30 Tuhan Yesus mengajar bagaimana hidup yang menyenangkan hati Tuhan dalam mempersiapkan diri menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.” Mat 2514. Melalui ayat ini Tuhan mengajar apa yang terjadi pada kita pada akhirnya ibarat Tuhan memberi kepercayaan itu kepada kita dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan kepercayaan tsb. Hamba yang Mau Bekerja Hamba yang dipercayakan 5 talenta dan 2 talenta bekerja keras untuk melipatgandakan apa yang dipercayakan padanya seperti orang yang diberi modal dan mau bekerja untuk menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan modal yang dipercayakan kepadanya. Hamba-hamba ini tidak mau berdiam diri tetapi menganggap talenta yang dipercayakan kepadanya merupakan peluang untuk mendatangkan keuntungan buat tuannya. Mereka akhirnya menghasilkan keuntungan 100 persen dari modal awalnya. Hamba yang Tidak Mau Bekerja Hamba yang menerima satu talenta berpendapat bahwa tuannya adalah orang yang jahat dan hanya mau mengambil keuntungan dari hamba-hambanya saja. Dia tidak mau bekerja untuk keuntungan tuannya, hingga akhirnya dia mengembalikan apa yang menjadi milik tuannya, sebanyak 1 talenta. Tidak lebih dan tidak kurang! Seseorang akan bertindak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Orang yang baik akan berpikir baik dan bertindak baik, sementara orang jahat akan berpikir jahat dan akhirnya bertindak jahat. Hamba yang ketiga memutuskan untuk tidak mengusahakan/ melipatgandakan talenta tuannya. Dia pergi dan menyembunyikan talenta itu. Apa yang dilakukan oleh hamba itu sementara mereka menunggu tuannya datang? Dia hanya melihat teman-temannya bekerja keras. Dia juga mungkin dinasehati oleh mereka bahwa dia seharusnya bekerja. Namun dia tetap tidak mau mengusahakan talenta tuannya. Dia tetap sibuk dengan aktivitas sehari-hari yang tidak menghasilkan keuntungan bagi tuannya. Kedatangan Sang Tuan Akhirnya sang tuan itu kembali dari perjalanannya. Yesus ingin menekankan mengenai apa yang dilakukan hamba-hamba yang merupakan gambaran orang percaya pada umumnya, yang telah dipercayakan sejumlah talenta. Pilihan ada pada kita dalam bertanggung jawab pada apa yang Tuhan percayakan pada kita, agar kita bisa melipatgandakan dan menghasilkan sesuatu bagi Dia. Mat 2519 Ketika Tuhan datang untuk kali yang kedua, kita semua harus memberikan pertanggungjawaban atas semua yang telah diberikan kepada kita. Sebagai orang yang dipercayakan untuk melipatgandakan talenta, kita harus mengupayakan kepercayaan itu. Orang yang memiliki 5 dan 2 talenta mereka malahan ditambahkan tanggung jawab dan berkat yang mereka terima pun bertambah, tetapi hamba yang dipercayakan 1 talenta, talentanya diambil dan diberikan kepada yang telah melipatgandakan talenta. Ingatlah bahwa apa pun yang kita lakukan dalam hal kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita, suatu saat Tuhan akan meminta pertanggungjawabannya. Menyelaraskan dengan Kenyataan Hidup Selagi masih hidup di dunia ini, kita akan dihadapkan kepada realita yaitu beragam keadaan yang penuh dengan masalah, konflik, kekacauan, iri hati, dusta, persaingan, kebencian, kemarahan, kecemaran, kejahatan dan lain sebagainya. Semua itu merupakan ujian iman; itu adalah perlombaan yang wajib kita ikuti sebagai orang percaya. Ujian iman tersebut dapat berupa persoalan yang terjadi dari luar dan dari dalam diri kita. Dari luar yaitu masalah dan tantangan yang tidak dapat kita hindari, dan dari dalam diri kita maksudnya sifat kelemahan, kecenderungan dan keinginan-keinginan kedagingan kita untuk melakukan perbuatan dosa. Tetapi sebagai orang percaya reaksi kita tidaklah di intimidasi, tunduk dan dibatasi oleh realita tersebut. Mengapa? Karena firman Tuhan memberikan pengertian yang menimbulkan sukacita disertai keyakinan bahwa segala keadaan yang diijinkan Tuhan bertujuan untuk mendewasakan iman kita; melalui hal tersebut Tuhan mau mengajarkan dan mengukir di dalam loh hati & batin kita tentang kebenaran yang bersifat kekal, menguduskan kita, menjadikan kita sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Roh kita semakin diperkuat, jiwa kita bersuka dalam Tuhan dan akan dipuaskan, hidup kita menghasilkan buah yang matang di dalam ketekunan. Agar itu semua dapat kita alami, pelajari beberapa hal mendasar berikut ini yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. 1. Memiliki rasa haus dan lapar akan kebenaran. Seruan yang pertama dituliskan dalam Yesaya 55 untuk turut serta dalam keselamatan yang dari Tuhan adalah ajakan hanya ditujukan kepada orang yang haus – dalam hal ini haus akan kebenaran. Tuhan Yesus sendiri mengatakan berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Karena hanya orang yang haus akan kebenaran yang akan terus mencari dan menganggap kebenaran itu adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga dia akan rela bayar harga untuk menjadi bagian dari kebenaran itu sendiri. 2. Mengenali kelemahan dan kecenderungan di dalam dirinya dan berdiri dalam kekuatan kuasa-Nya. Setelah kita lahir baru, roh kita sudah selamat tetapi jiwa kita sedang diselamatkan karena kita masih hidup di dalam dunia ini. Alkitab mengatakan bahwa barang siapa yang telah mati, dia telah berhenti berbuat dosa. Jadi selama kita masih hidup di dunia ini, maka kecenderungan untuk berbuat dosa kedagingan itu masih ada. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita; Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita 1 Yohanes 1 8 & 10. Tidak usah takut, menjadi lemah, tawar hati, putus asa dan menyerah dalam kelemahan kita tetapi percayalah akan kekuatan dan kehebatan kasih-Nya yang sanggup memulihkan keadaan kita juga memberikan kita otoritas dan kuasa serta kemampuan melawan kedagingan dan dusta iblis. Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu 1 Yohanes 319-20. 3. Pengenalan seseorang akan Pribadi Tuhan Allah, mengenali identitas baru nya di dalam Kristus Yesus, memahami arti dan peran Tuhan bagi kehidupannya. Tuhan Allah, Pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Allah Yang Maha Kuasa, dalam hubungannya dengan manusia sebagai Lord God covenant, Bapa yang penuh kasih. Renungkanlah sifat pribadi-Nya berikut ini bagi kita Tuhan menyediakan segala yang kita perlukan – termasuk memberikan kita desires hasrat, keinginan untuk taat melakukan kehendak-Nya Jehovah Jireh; menyembuhkan Jehovah Rapha; panji kemenangan Jehovah Nissi; menguduskan Jehovah Mekoddishkem; sumber damai sejahtera Jehovah Shalom; pemegang kuasa otoritas tertinggi dan semua musuh tunduk kepadaNya Jehovah Sabaoth; Gembala yang baik Jehovah Raah; yang membenarkan kita Jehovah Tsidkenu; maha hadir divine presence dan tidak akan pernah meninggalkan kita Jehovah Shammah. Kita telah diangkat sebagai anak yang dikasihi Bapa karena kita telah dibeli oleh Darah Anak-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus, Juruselamat kita dan telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah dan memiliki hak sebagai ahli waris Kerajaan Surga serta berhak menerima janji-janji Allah. Hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Kita tidak lagi hidup diperhamba oleh roh perbudakan, tidak lagi hidup dalam ketakutan, jiwa kita tenang, damai dan dipuaskan di dalam Tuhan. Segala penyakit dan kelemahan kita telah ditanggung dan segala kutuk telah dipatahkan Kristus di atas kayu salib. Dalam kelemahan kita justru kuat kuasa Tuhan turun menaungi dan menjadi sempurna atas kita, kasih karunia-Nya cukup sesuai kebutuhan kita sufficient, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dia membimbing dan membawa kita pada seluruh jalan kebenaran, melindungi hati dan kehidupan kita daripada segala tipu muslihat iblis dan dari segala hal yang jahat. Walaupun kita berjalan dalam lembah kekelaman kita tidak perlu takut karena Dia setia selalu beserta kita dan turut merasakan apa yang kita rasakan. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan. Tuhan yang memegang tangan kita, yang menjamin kita dan memberikan kemenangan dan bukan kita yang berusaha sendiri. Seperti Bapa sayang kepada anaknya, Dia mendidik dan mendisiplinkan kita untuk tujuan kebaikan. Jika kita berdosa dan kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil, akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Tuhan yang memberkati dan mengangkat hidup kita melebihi dari yang kita harapkan. Hidup kita hanya akan diikuti oleh kebaikan dan kemurahan. 4. Memiliki kerendahan hati dan kelemah lembutan. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan Matius 1129-30. Mengapa banyak anak Tuhan yang sudah tahu firman tetapi belum atau tidak mau menjadi pelaku firman? Karena firman tersebut baru sebatas informasi dan pengetahuan pikiran saja. Salah satu yang membatasi firman tersebut menjadi pengetahuan secara hati adalah kecongkakan kita. Yang menahan kita untuk menjadi pelaku firman terkadang adalah kesombongan kita. Ternyata untuk mendapat ketenangan dalam jiwa walaupun berada di dalam lembah kekelaman adalah sifat rendah hati dan lemah lembut. Kuk ini akan terasa ringan bagi orang yang memilih untuk merendahkan hati dan lemah lembut. Salah satu sifat Tuhan yaitu Jehova Jireh – Tuhan menyediakan semua yang kita perlu termasuk juga memberikan kita hati yang baru, yang rela dan berkeinginan untuk taat dalam melakukan kehendak Tuhan. Dengan kata lain dalam hadirat-Nya hati yang keras akan dilembutkan. Lepaskan segala beban, kedagingan dan dosa yang begitu merintangi dan kenakanlah kuk Tuhan yaitu kebenaran. Karena Dia sendiri lah yang akan memampukan kita memikul kuk kebenaran itu, Dia sendirilah yang mengerjakan kebenaran itu di dalam kita menurut kerelaan kehendak-Nya. Keadaan dunia dan manusia di akhir jaman akan semakin buruk, karena dunia sedang lenyap dengan segala keinginannya. Tanpa Roh Kudus kita tidak akan mampu melewati semua apalagi hidup berkemenangan. Berlindunglah dalam kekuatan kuasa Tuhan yang menjamin semua kegenapan janji firman-Nya bagi kita. Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenagan-Nya 2 Korintus 214a, Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia iman kita 1 Yohanes 54. Sebagai bukti iman, kita mau berusaha untuk menang atas setiap pencobaan dan bekerja untuk melipatgandakan apa yang Tuhan percayakan. Hamba yang jahat dan malas dihukum bukan hanya karena tidak menghasilkan apa-apa tetapi alasan dia tidak mau berusaha adalah karena dia tidak beriman. Dan orang yang tidak beriman mendatangkan hukuman atas dirinya. Selamat bekerja melipatgandakan apa yang Tuhan telah percayakan sebagai bukti iman kita. Amin! Other posts in Weekly Message [postlist id=1742]
”Aku menetapkan pola bagimu, agar, sebagaimana yang telah kulakukan kepadamu, kamu harus melakukannya juga.”​—YOH. 1315. 1, 2. Pada malam terakhir kehidupannya di bumi, apa yang Yesus ajarkan kepada para rasulnya? MALAM itu adalah malam terakhir kehidupan Yesus di bumi. Ia berada di ruang atas sebuah rumah di Yerusalem bersama rasul-rasulnya. Sewaktu mereka sedang makan, Yesus berdiri dan menanggalkan pakaian luarnya. Ia mengikatkan handuk di pinggangnya, lalu menuangkan air ke dalam baskom. Ia pun mulai mencuci kaki murid-murid itu dan mengeringkannya dengan handuk. Kemudian, ia mengenakan kembali pakaian luarnya. Mengapa Yesus melakukan tindakan yang dianggap rendah ini?​—Yoh. 133-5. 2 Yesus menjelaskan, ”Tahukah kamu apa yang telah aku lakukan kepadamu? . . . Jika aku, meskipun Tuan dan Guru, membasuh kakimu, kamu juga wajib saling membasuh kaki. Karena aku menetapkan pola bagimu, agar, sebagaimana yang telah kulakukan kepadamu, kamu harus melakukannya juga.” Yoh. 1312-15 Melalui kerelaannya melakukan hal ini, Yesus mengajar para rasulnya untuk rendah hati. Pelajaran itu akan selalu mereka ingat dan akan mendorong mereka untuk berlaku rendah hati di kemudian hari. 3. a Bagaimana Yesus menandaskan pentingnya kerendahan hati pada dua kesempatan? b Apa yang akan kita bahas dalam artikel ini? 3 Bukan pada peristiwa itu saja Yesus menandaskan pentingnya kerendahan hati kepada para rasulnya. Sebelumnya, sewaktu beberapa rasul memperlihatkan semangat bersaing, Yesus memanggil seorang anak kecil untuk mendekat, dan Ia mengatakan kepada mereka, ”Barang siapa menerima anak kecil ini atas dasar namaku, menerima aku juga, dan barang siapa menerima aku, menerima dia juga yang mengutus aku. Karena dia yang bertingkah laku sebagai pribadi yang lebih kecil di antara kamu semua, dialah yang besar.” Luk. 946-48 Pada kesempatan lain, sewaktu berbicara dengan orang Farisi yang suka mencari kedudukan terkemuka, Yesus mengatakan, ”Setiap orang yang meninggikan diri akan direndahkan dan dia yang merendahkan diri akan ditinggikan.” Luk. 1411 Jelaslah, Yesus ingin agar para pengikutnya rendah hati. Ia tidak mau mereka bersikap sombong, angkuh, atau menganggap diri lebih hebat daripada orang lain. Mari kita cermati teladan kerendahan hatinya agar kita bisa menirunya. Dan, perhatikanlah bahwa sifat ini bisa bermanfaat bukan hanya bagi orang yang menunjukkannya, melainkan juga bagi orang lain. ”AKU TIDAK BERPALING KE ARAH YANG BERLAWANAN” 4. Bagaimana Putra Allah memperlihatkan kerendahan hati sebelum ia datang ke bumi? 4 Putra Allah menunjukkan kerendahan hati bahkan sebelum ia datang ke bumi. Di surga, Yesus bergaul dengan Bapak surgawinya selama miliaran tahun. Buku Yesaya menggambarkan betapa eratnya hubungan Sang Putra dengan Bapaknya dengan kata-kata, ”Tuan Yang Berdaulat Yehuwa telah memberi aku lidah seorang murid, agar aku mengetahui caranya menjawab orang yang lelah dengan perkataan. Ia bangun setiap pagi; ia membangunkan telingaku agar mendengar seperti seorang murid. Tuan Yang Berdaulat Yehuwa membuka telingaku, dan mengenai aku, aku tidak memberontak. Aku tidak berpaling ke arah yang berlawanan.” Yes. 504, 5 Yesus sangat ingin belajar dari Allah. Ia dengan rendah hati mendengarkan apa yang Yehuwa ajarkan. Pastilah Yesus juga memerhatikan baik-baik bagaimana Yehuwa dengan rendah hati memperlihatkan belas kasihan kepada umat manusia yang berdosa! 5. Bagaimana Yesus memperlihatkan kerendahan hati dan kesahajaan sewaktu berselisih dengan Iblis? 5 Tidak semua malaikat rendah hati seperti Yesus. Malaikat yang menjadi Setan Si Iblis tidak mau belajar dari Yehuwa. Ia malah menjadi angkuh dan merasa lebih hebat daripada yang lain. Sikapnya ini sangat berlawanan dengan kerendahan hati. Ia pun memberontak melawan Yehuwa. Sebaliknya, Yesus merasa puas dengan wewenang yang Yehuwa berikan dan tidak ingin menyalahgunakan wewenangnya. Sewaktu ’berselisih dengan Iblis mengenai tubuh Musa’, Yesus tidak mau bertindak melampaui wewenangnya, sekalipun ia adalah Mikhael, malaikat yang paling berkuasa. Ya, Putra Allah menunjukkan kerendahan hati dan kesahajaan. Ia rela menantikan Yehuwa, Hakim Tertinggi di alam semesta, untuk menangani hal itu dengan cara dan pada waktu yang Allah tentukan.​—Baca Yudas 9. 6. Mengapa dapat dikatakan bahwa Yesus rendah hati dengan menerima tugas sebagai Mesias? 6 Sewaktu masih di surga, Yesus pasti mengetahui semua nubuat tentang kehidupannya kelak sebagai Mesias di bumi. Jadi, kemungkinan besar ia sudah mengetahui semua penderitaan yang akan ia alami. Namun, Yesus tetap menerima tugas untuk hidup di bumi dan mati sebagai Mesias yang dijanjikan. Mengapa? Karena ia rendah hati. Rasul Paulus menekankan hal itu dengan menulis, ”Walaupun ada dalam wujud Allah, [ia] tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah. Tidak, tetapi ia mengosongkan dirinya dan mengambil wujud seorang budak dan menjadi sama dengan manusia.”​—Flp. 26, 7. SEBAGAI MANUSIA, ”IA MERENDAHKAN DIRINYA” 7, 8. Dengan cara apa saja Yesus memperlihatkan kerendahan hati selama masa kanak-kanak dan sepanjang masa pelayanannya? 7 ”Ketika [Yesus] berada dalam wujud sebagai manusia,” tulis Paulus, ”ia merendahkan dirinya dan taat sampai mati, ya, mati pada tiang siksaan.” Flp. 28 Sejak masa kanak-kanak, Yesus sudah meninggalkan pola kerendahan hati. Sekalipun dibesarkan oleh orang tua yang tidak sempurna​—Yusuf dan Maria—​Yesus dengan rendah hati ”terus tunduk kepada mereka”. Luk. 251 Sungguh bagus teladannya itu bagi anak-anak! Allah pasti akan memberkati mereka jika mereka rela menaati orang tua. 8 Setelah dewasa, Yesus memperlihatkan kerendahan hati dengan selalu menomorsatukan kehendak Yehuwa, bukan kehendaknya sendiri. Yoh. 434 Selama masa pelayanannya, Yesus Kristus menggunakan nama Allah, dan ia membantu orang-orang yang tulus untuk memperoleh pengetahuan yang saksama tentang sifat-sifat Yehuwa dan kehendak-Nya bagi manusia. Yesus tidak hanya mengajar orang lain untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah, tetapi ia sendiri juga menerapkannya. Dalam contoh doa yang ia ajarkan, hal pertama yang Yesus sebutkan adalah, ”Bapak kami yang di surga, biarlah namamu disucikan.” Mat. 69 Jadi, Yesus mengajar murid-muridnya bahwa hal terpenting dalam kehidupan adalah memuliakan nama Yehuwa. Kehidupannya sendiri pun menunjukkan hal itu. Menjelang akhir pelayanannya di bumi, Yesus bisa dengan yakin mengatakan kepada Yehuwa dalam doanya, ”Aku telah memberitahukan namamu kepada mereka [para rasul] dan akan memberitahukannya.” Yoh. 1726 Selain itu, Yesus sering mengatakan bahwa tidak ada satu pun yang dapat ia lakukan tanpa bantuan Yehuwa.​—Yoh. 519. 9. Apa yang dinubuatkan Zakharia tentang Mesias? Bagaimana nubuat ini tergenap atas diri Yesus? 9 Zakharia bernubuat tentang Mesias, ”Nikmatilah sukacita besar, hai, putri Zion. Bersoraklah dalam kemenangan, hai, putri Yerusalem. Lihat! Rajamu datang kepadamu. Ia adil-benar, ya, diselamatkan; ia rendah hati, dan menunggang seekor keledai jantan, ya, binatang yang sudah dewasa anak keledai betina.” Za. 99 Nubuat ini tergenap ketika Yesus memasuki Yerusalem sebelum Paskah tahun 33 M. Orang-orang menghamparkan pakaian luar mereka dan cabang-cabang pohon di jalan. Seluruh penduduk menyambutnya dengan riuh sewaktu ia memasuki kota. Ya, sekalipun orang-orang mengelu-elukan dia sebagai Raja mereka, Yesus tetap rendah hati.​—Mat. 214-11. 10. Dengan taat sampai mati, apa yang Yesus buktikan? 10 Sewaktu berada di bumi, Yesus Kristus terus memperlihatkan kerendahan hati dan ketaatan bahkan hingga kematiannya di tiang siksaan. Dengan demikian, ia memberikan bukti yang tidak dapat dibantah bahwa manusia dapat tetap loyal kepada Yehuwa meskipun diuji habis-habisan. Yesus juga menunjukkan betapa salahnya tuduhan Setan bahwa manusia melayani Yehuwa hanya karena mengharapkan imbalan. Ayb. 19-11; 24 Melalui ketaatannya yang sempurna, Kristus menunjukkan bahwa Yehuwa memang berhak memerintah, dan bahwa cara Dia memerintah adalah yang terbaik. Yehuwa pasti sangat senang melihat keloyalan yang tak tergoyahkan dari Putra-Nya yang rendah hati ini.​—Baca Amsal 2711. 11. Berkat korban tebusan Yesus Kristus, apa yang diperoleh orang-orang yang beriman? 11 Melalui kematiannya di tiang siksaan, Yesus juga menyediakan tebusan bagi manusia. Mat. 2028 Atas dasar korban Yesus, Yehuwa dapat mengampuni dosa kita sesuai dengan tuntutan-Nya yang adil-benar dan memberi manusia kesempatan untuk hidup abadi. ”Melalui satu tindakan yang menghasilkan pembenaran, segala macam orang dinyatakan adil-benar untuk kehidupan,” tulis Paulus. Rm. 518 Berkat kematian Yesus, orang-orang Kristen terurap dapat hidup abadi di surga, sedangkan ”domba-domba lain”, hidup abadi di bumi.​—Yoh. 1016; Rm. 816, 17. AKU ”RENDAH HATI” 12. Bagaimana Yesus memperlihatkan kelembutan dan kerendahan hati dalam memperlakukan manusia tidak sempurna? 12 Yesus mengundang semua orang yang ”berjerih lelah dan dibebani tanggungan yang berat” untuk datang kepadanya. Ia mengatakan, ”Pikullah kuk aku dan belajarlah padaku, karena aku berwatak lembut dan rendah hati, dan kamu akan menemukan kesegaran bagi jiwamu.” Mat. 1128, 29 Karena Yesus rendah hati dan lembut, ia memperlakukan manusia yang tidak sempurna dengan baik hati dan tidak berat sebelah. Ia tidak mengharapkan lebih daripada yang dapat dilakukan murid-muridnya. Yesus memuji mereka dan membangkitkan semangat mereka. Ia tidak membuat mereka merasa tidak pandai atau tidak berharga. Yesus pastilah bukan orang yang keras atau sulit disenangkan. Sebaliknya, ia meyakinkan para pengikutnya bahwa kalau mereka mendekat kepadanya dan menerapkan ajarannya, mereka akan merasa disegarkan, sebab kuknya nyaman dan tanggungan darinya ringan. Pria dan wanita, juga tua dan muda, senang bergaul dengan Yesus.​—Mat. 1130. 13. Bagaimana Yesus memperlihatkan belas kasihan kepada rakyat jelata? 13 Yesus merasa kasihan melihat rakyat jelata Israel, dan ia berbuat sebisa-bisanya untuk meringankan beban hidup mereka. Di dekat Yerikho, ia bertemu dengan dua orang pengemis buta, yang salah satunya bernama Bartimeus. Mereka terus berteriak meminta Yesus menolong mereka, tetapi orang-orang dengan tegas menyuruh mereka diam. Yesus tentu bisa saja mengabaikan permohonan orang-orang buta itu. Namun, karena terdorong oleh rasa kasihan, ia meminta mereka mendekat, lalu ia menyembuhkan mereka. Ya, Yesus meniru Bapaknya, Yehuwa, dengan memperlihatkan kerendahan hati dan belas kasihan kepada manusia berdosa yang dipandang rendah.—Mat. 2029-34; Mrk. 1046-52. ”BARANG SIAPA MERENDAHKAN DIRINYA AKAN DITINGGIKAN” 14. Hal baik apa saja yang dihasilkan oleh kerendahan hati Yesus? 14 Kerendahan hati yang Yesus perlihatkan sepanjang hidupnya menghasilkan sukacita dan berkat. Yehuwa bersukacita melihat Putra yang dikasihi-Nya dengan rendah hati menaati Dia. Para rasul dan murid Yesus pun disegarkan oleh kelembutan dan kerendahan hatinya. Teladannya, ajarannya, dan pujiannya yang hangat mendorong mereka untuk maju secara rohani. Yesus juga membantu rakyat jelata dengan mengajar dan menghibur mereka, serta memberikan apa yang mereka butuhkan. Terlebih lagi, dengan adanya korban Yesus, semua orang yang beriman kepadanya akan memperoleh berkat untuk selama-lamanya. 15. Karena rendah hati, apa yang Yesus dapatkan? 15 Bagaimana dengan Yesus sendiri? Apakah kerendahan hatinya bermanfaat bagi dirinya? Tentu saja, karena ia mengatakan kepada murid-muridnya, ”Barang siapa merendahkan dirinya akan ditinggikan.” Mat. 2312 Itulah yang terjadi atas diri Yesus. Paulus mengatakan, ”Allah meninggikan [Yesus] kepada kedudukan yang lebih tinggi dan dengan baik hati memberinya nama di atas setiap nama lain, sehingga dengan nama Yesus semua harus bertekuk lutut, yaitu mereka yang berada di surga, di bumi, dan di bawah tanah, dan setiap lidah harus mengakui secara terbuka bahwa Yesus Kristus adalah Tuan bagi kemuliaan Allah, sang Bapak.” Karena kerendahan hati dan kesetiaan Yesus sewaktu hidup di bumi, Allah Yehuwa meninggikan Putra-Nya dengan memberinya wewenang atas semua makhluk di surga dan di bumi.​—Flp. 29-11. YESUS ’MENUNGGANG DEMI KEBENARAN DAN KERENDAHAN HATI’ 16. Apa yang memperlihatkan bahwa Putra Allah akan selalu rendah hati? 16 Putra Allah akan selalu rendah hati. Sebagai Raja di surga, ia akan bertindak atas musuh-musuh Allah. Salah seorang pemazmur menubuatkan, ”Dalam semarakmu teruslah menuju keberhasilan; menungganglah demi kebenaran dan kerendahan hati dan keadilbenaran.” Mz. 454 Di Armagedon, Yesus Kristus akan berperang untuk membela orang-orang yang rendah hati, adil-benar, dan mengasihi kebenaran. Lalu, apa yang akan terjadi pada akhir Pemerintahan Seribu Tahun Kristus setelah ia ”meniadakan semua pemerintah dan semua wewenang dan kuasa”? Apakah ia akan tetap rendah hati? Pasti, sebab ’ia akan menyerahkan kerajaan kepada Allah dan Bapaknya’.​—Baca 1 Korintus 1524-28. 17, 18. a Mengapa hamba-hamba Yehuwa harus mengikuti pola kerendahan hati Yesus? b Apa yang akan dibahas dalam artikel berikutnya? 17 Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan mengikuti pola yang ditetapkan oleh Sang Teladan kita dan memperlihatkan kerendahan hati? Di Armagedon, hanya orang yang rendah hati dan adil-benar yang akan diselamatkan oleh Raja Yesus Kristus. Jadi, kalau ingin selamat, kita harus rendah hati. Dan, sama seperti Yesus, kalau kita rendah hati, bukan kita saja yang akan menuai manfaatnya, tetapi orang lain juga. 18 Apa yang akan membantu kita meniru pola Yesus? Bagaimana kita dapat mengupayakan kerendahan hati sekalipun tidak mudah? Kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam artikel berikutnya.
tindakan yang menyedihkan hati tuhan